Monday, April 22, 2013

Pemahaman Sosiolinguistik bagi Guru Bahasa


            Pengajaran sekarang ini menggunakan pendekatan siswa sebagai pusatnya (student centered approach) bukan lagi guru (teacher centered approach). Walaupun demikian, guru tetap memiliki peranan yang vital dalam proses pembelajaran. Diantaranya adalah sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator (Djamarah, 2000: 43-48). Dengan kesadaran guru memiliki multiperan tersebut, hendaknya guru membekali dirinya dengan berbagai ilmu. Salah satunya, menurut penulis, adalah sosiolinguistik. Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Chaer, 2004:2). Oleh karena itu pemahaman sosiolinguistik ini sangat bermanfaat bagi seorang guru, terutama guru bahasa. Di sini, pemahaman sosiolinguistik bermanfaat bagi guru bahasa saat menyampaikan materi dan kontrol diri bertindak tutur pada saat pembelajaran.
Dalam menyampaikan materi, seorang guru berarti sedang berperan sebagai informator, korektor, informator, fasilitator, pembimbing, dan demonstrator. Di sini, sosiolinguistik memberikan bekal pada guru saat menjelaskan pemilihan ekspresi atau tuturan yang tepat berdasarkan berbagai hal, seperti: tingkat keformalan, situasi, lingkungan, lawan bicara, topik, dan konteks saat berbicara. Contoh sederhana dalam Bahasa Inggris adalah dalam penggunaan ekspresi ‘Good morning’ dan ‘Hi’. ‘Good morning’ digunakan saat menyapa orang yang lebih tua/lebih dihormati, atau dalam situasi formal. Misalnya saat menyapa guru atau menyapa hadirin dalam seminar. Guru perlu memahamkan siswa bahwa berbahasa itu tidak hanya perlu memperhatikan kelancaran (fluency) dan keakuratan (accuracy), namun juga perlu memperhatikan kepantasan (appropriateness). Selain itu, melalui materi yang disampaikan, guru juga bisa mengajarkan karakter, seperti kesopanan dan menerima perbedaan. Contoh sederhana: saat tidak mendengar apa yang diucapkan lawan bicara, dalam Bahasa Inggris tidak menggunakan kata ‘what’ (apa) tetapi big pardon, please (mohon maaf saya tidak dengar). Belajar menerima perbedaan seperti saat pemilihan Bahasa Inggris yang digunakan, Bahasa Inggris British kah (color) atau Bahasa Inggris Amerika (colour). Penting kiranya penanaman karakter ini mengingat negara Indonesia adalah negara yang multilingual.
Sedangkan pentingnya pemahaman sosiolinguistik dalam mengontrol tindak tutur guru pada saat pembelajaran ini berarti saat guru berperan sebagai korektor, inspirator, organisator, motivator, inisiator, pengelola kelas, mediator, dan evaluator. Maksudnya, guru sadar bahwa tuturannya akan berefek pada siswa. Guru memiliki pemahaman bahwa setiap proses komunikasi menyebabkan terjadinya peristiwa tutur (peristiwa bahasa) dan tindak tutur (tindak bahasa) dalam satu situasi tutur. Yang dimaksud peristiwa tutur ialah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat dan situasi tertentu (Chaer, 1995: 61-62). Tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Kalau dalam peristiwa tutur dilihat dari tujuan peristiwanya, tetapi dalam tindak tutur lebih dilihat pada makna atau arti tindakan dalam tuturannya. Dengan pemahaman ini guru dapat menge-set tuturannya agar memiliki imbas tertentu bagi siswanya atau menimbulkan respon yang diinginkan dari siswanya. Lebih lanjut Keraf (2001: 14) mengatakan bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita, dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Contoh: seorang guru memakai bahasa-bahasa jejaring sosial yang sedang berkembang dikalangan siswanya dengan maksud agar siswa merasa dekat dengannya, sehingga guru tersebut lebih mudah mengontrol siswanya. Hal ini karena bahasa memungkinkan tiap orang merasa dirinya terikat degan kelompok sosial yang dimasukinya  untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tinggi.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment